INFLASI BANGGAI DI ZONA MODERAT ; SEBUAH TANDA EKONOMI SEDANG BERGERAK & TUMBUH

by : @Aksara-Nusantara

Oleh : Anchu…

Istilah inflasi berasal dari kata Latin “inflare”, yang berarti meniup atau mengembang. Maknanya sederhana, sesuatu yang awalnya kecil kemudian membesar. Namun dalam dunia ekonomi, kata ini membawa sejarah yang panjang dan penuh pelajaran.

Penggunaan modern istilah inflasi mulai mendapat sorotan saat Perang Saudara Amerika (1861–1865). Pada masa itu, pemerintah dan pihak swasta mencetak uang kertas dalam jumlah besar untuk membiayai perang. Uang beredar semakin banyak, tetapi jumlah logam mulia—emas dan perak—yang digunakan sebagai penjamin nilainya tidak bertambah. Akibatnya, uang kertas kehilangan kekuatannya; nilainya menurun, dan harga-harga barang pun melonjak.

Sejak saat itulah kata inflasi digunakan untuk menggambarkan situasi ketika nilai uang “mengembang” tanpa kontrol—bukan dalam arti tumbuh, melainkan melemah. Dari sejarah itu kita belajar bahwa inflasi bukan sekadar istilah ekonomi, tetapi peringatan tentang pentingnya keseimbangan, kehati-hatian, dan tanggung jawab dalam mengelola mata uang sebuah negara. Inflasi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis yaitu ;

1. Inflasi ringan. Jenis inflasi ringan terjadi ketika tingkat inflasi relatif rendah, biasanya berkisar antara 1-3 persen setahun. Meskipun ada sedikit peningkatan harga, ini dianggap sebagai tingkat inflasi yang dapat diterima dan bahkan bisa menjadi bagian alami dari pertumbuhan ekonomi.

2. Inflasi moderat Jenis inflasi moderat ini terjadi ketika tingkat inflasi berjalan landai/sedang, berkisar antara 3-6 persen setahun. Inflasi moderat dapat mempengaruhi daya beli masyarakat dan juga dapat memberi keuntungan pelaku ekonomi dan perusahaan.

3. Inflasi tinggi. Inflasi tinggi terjadi ketika tingkat inflasi meningkat secara signifikan, melebihi 6 persen setahun. Ini biasanya menyebabkan tekanan yang kuat pada perekonomian, termasuk penurunan daya beli, ketidakpastian ekonomi, dan potensi dampak negatif lainnya seperti ketidakstabilan sosial.

4. Inflasi hiper. Inflasi hiper adalah tingkat inflasi yang sangat tinggi, seringkali lebih dari 50-100 persen setahun, bahkan bisa mencapai ribuan persen dalam kasus ekstrem. Inflasi hiper dapat menyebabkan kekacauan ekonomi dan sosial, dengan nilai uang yang hancur dengan cepat, dan kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap sistem moneter.

Di Kabupaten Banggai, angka inflasi per Agustus 2025 berada di angka 4,66 persen secara tahunan, dan 4,27 persen secara tahun kalender, sementara Inflasi year-on-year (y-on-y) pada Oktober sebesar 4,59% (BPS_banggaikab.bps.go.id). Angka-angka itu terlihat dingin, seperti deretan data tanpa makna. Namun di baliknya, sesungguhnya mengalir denyut nadi masyarakat, napas para pedagang kecil, langkah para petani, dan harapan keluarga yang tengah membangun masa depan.

Inflasi Indonesia pernah menyentuh angka 4,94 persen di tahun 2022, dan mantan Menteri Keuangan RI Sri Mulyani menyebut angka itu masih tergolong moderat. Para ahli ekonomi dunia pun sepakat, inflasi moderat di bawah 6 persen bukanlah lonceng bahaya. Bukan petaka, bukan sinyal krisis—melainkan tanda bahwa roda ekonomi sedang berputar pada ritme yang sehat.

Inflasi moderat justru menunjukkan bahwa masyarakat masih berbelanja, usaha masih bergerak, dan harga-harga menyesuaikan dalam batas kewajaran. Tidak terlalu panas sampai membakar daya beli, tidak terlalu dingin hingga membuat dunia usaha membeku. Ia adalah denyut nadi ekonomi yang normal—kadang naik sedikit, kadang turun sedikit—namun tetap dalam jalur yang terkendali.

Inflasi moderat adalah kenaikan harga yang stabil dan relatif rendah, biasanya di kisaran 3%-6% per tahun, yang dianggap sebagai tanda perekonomian yang sehat. Tingkat ini mendorong masyarakat untuk membelanjakan uang karena nilai uang cenderung menurun sedikit, sehingga merangsang aktivitas ekonomi, investasi, dan produksi. Sisi Positif Inflasi Moderat antara lain ;

1. Stimulasi Pertumbuhan Ekonomi: Inflasi yang moderat dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketika harga barang dan jasa naik, produsen cenderung meningkatkan produksi untuk memanfaatkan kenaikan harga tersebut, yang pada gilirannya dapat meningkatkan output dan lapangan kerja.

2. Pengurangan Beban Utang: Inflasi Moderat dapat mengurangi beban utang riil pemerintah dan pelaku ekonomi lainnya. Ketika inflasi meningkat, nilai uang yang akan dibayarkan di masa depan menjadi lebih rendah dalam istilah riil, sehingga meringankan beban utang.

3. Mendorong Konsumsi dan Investasi: Inflasi Moderat dapat mendorong konsumsi dan investasi dengan mengurangi insentif untuk menabung. Jika harga diperkirakan akan naik, konsumen cenderung mempercepat pembelian, dan investor lebih mungkin mengalokasikan dana untuk investasi produktif daripada menyimpannya dalam bentuk tunai.

Dalam Hukum Ekonomi Modern, inflasi bukanlah musuh yang harus dibasmi sampai ke akar. Ia justru harus dijinakkan, dikawal, dikendalikan agar tetap berada dalam batas moderat. Karena di titik itulah stabilitas tercipta, di titik itulah kita menilai kinerja pemerintah, apakah mampu menjaga ekonomi agar tetap hidup, bergerak, dan stabil ataukah hancur lebur.

Namun, sebagian orang yang tidak memahami cara kerja ekonomi modern sering kali salah paham. Mereka mendengar kata inflasi, lalu takut. Mereka melihat angka bergerak naik, lalu merasa daerah ini sedang menuju krisis. Padahal mereka belum benar-benar tahu apa itu inflasi, bagaimana ia bekerja, dan apa baik buruknya dalam sebuah sistem ekonomi.

Inflasi tidak selalu buruk. Ia adalah tanda bahwa ada transaksi, ada pergerakan harga, ada pertumbuhan. Tanpa inflasi, ekonomi justru bisa lumpuh—usaha berhenti berkembang, investasi tak bergerak, dan pasar menjadi beku. Itulah mengapa pemerintah dituntut bekerja keras mengendalikan inflasi agar tetap berada pada level ringan dan moderat, demi menjaga keseimbangan, melindungi daya beli, dan memastikan Banggai terus melangkah menuju masa depan yang lebih mapan.

Di antara angka-angka itu, tersimpan pesan sederhana : bahwa ekonomi bukan sekadar hitungan. Ia adalah cerita tentang kehidupan kita semua.

Penutup dan Saran dari Saya ; Anchu, Orang Biasa-Biasa.

Kadang yang paling menyakitkan bukanlah kritiknya, tapi ketidaktahuan yang dibungkus seolah-olah kebenaran. Terlalu sering kita mendengar orang-orang yang tak pernah menyentuh buku ekonomi modern, tak pernah memahami cara kerja pasar, produksi, distribusi, dan moneter—namun begitu mudah melontarkan istilah “inflasi” sebagai tuduhan, sebagai senjata politik, sebagai cermin kemarahan yang tidak pernah disaring oleh pengetahuan.

Padahal ekonomi bukan sekadar kata-kata yang dilempar untuk menyudutkan. Ekonomi adalah jantung sebuah Negara dan Daerah—berdenyut karena kerja keras, kebijakan, dan proses panjang yang tidak selalu terlihat oleh mata. Menyebut “inflasi” tanpa memahami artinya ibarat menuduh kapal tenggelam hanya karena melihat ombak dari jauh.

Saran saya sederhana : sebelum menuding, belajarlah. Sebelum berbicara soal ekonomi, pahamilah bahwa setiap angka adalah nasib orang banyak. Setiap kebijakan adalah harapan yang sedang dirajut. Dan setiap istilah yang digunakan sembarangan hanya akan menunjukkan satu hal yaitu kebodohan, bila tidak disadari, bisa jauh lebih merusak dibanding kesalahan ekonomi itu sendiri.

Belajar dan Membacalah, agar kritik itu bernilai.
Dan berbicaralah, bukan untuk mempermalukan daerah, tetapi untuk membangunnya.

Wasalam…

Kabar Terkait