oleh ; Anchu, Orang Biasa.
Di tengah tuntutan zaman yang terus berubah dan kebutuhan pelayanan publik yang semakin kompleks, Kabupaten Banggai memasuki babak penting dalam sejarah pembangunannya. Dua proyek strategis yang kini menjadi pusat perhatian publik yaitu Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah 7 Lantai dan Pembangunan Jalan Lumpoknyo-PasarTua bukan sekadar infrastruktur. Keduanya adalah investasi masa depan, pijakan kuat untuk mewujudkan pelayanan kesehatan modern serta konektivitas daerah yang lebih efisien, merata, dan manusiawi.
Rumah Sakit 7 lantai yang dirancang sebagai pusat rujukan modern ini akan menghadirkan harapan baru bagi masyarakat, fasilitas yang lebih lengkap, layanan yang lebih cepat, dan ruang yang lebih layak bagi tenaga kesehatan dalam menjalankan tugas kemanusiaan mereka. Sementara itu, pembangunan jalan penghubung ruas lumpoknyo-pasar tua bukan hanya membuka akses fisik, tetapi juga membuka peluang ekonomi, mempersingkat jarak, mempercepat distribusi, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi oleh waktu dan medan.
Pembangunan Rumah Sakit Berlantai 7 : Ikhtiar Besar Menjawab Keluh Kesah Masyarakat Banggai ;
Selama bertahun-tahun, dari satu bupati ke bupati berikutnya, masyarakat Banggai menyimpan keluh kesah yang tak pernah benar-benar terjawab, rumah sakit yang penuh sesak, pasien yang menunggu di lorong, ruang perawatan berdempetan, dan keluarga yang gelisah karena tidak ada tempat untuk menaruh harapan. Masalah ini bukan baru kemarin muncul—ia telah menjadi jeritan panjang yang diwariskan generasi demi generasi.
Kini, pembangunan Rumah Sakit berlantai 7 hadir sebagai jawaban yang paling konkret. Sebuah langkah besar untuk mengakhiri fenomena kekurangan ruang yang telah begitu lama menyiksa masyarakat. Bangunan baru ini adalah napas lega bagi pasien, keluarga, dan tenaga kesehatan. ruang yang lebih luas, pelayanan yang lebih tertata, serta fasilitas modern yang memberi martabat bagi setiap orang yang datang untuk sembuh dari sakit.
Sementara itu, kekhawatiran tentang risiko gempa terhadap gedung bertingkat yang disampaikan fraksi Partai Gerindra Banggai pada sidang paripurna DPRD Kabupaten Banggai tentang pengantar nota keuangan dan R APBD tahun 2026 Selasa 25/11/2025 hanyalah argumentasi kosong yang tidak bertumpu pada data dan ilmu pengetahuan. perlu di ingat bahwa rekayasa struktur bangunan modern telah lama mampu membangun gedung tinggi yang aman di wilayah rawan gempa, contohnya banyak bangunan rumah sakit bertingkat-tingkat di Jakarta yang aktivitas seismiknya lebih masif dibandingkan di banggai . Terlebih lagi, sampai hari ini belum ada satu pun penelitian geologi komprehensif yang menyatakan bahwa Kabupaten Banggai tidak layak dibangun gedung 7 lantai. Kekhawatiran semacam itu lebih bersifat politis dan tendensius daripada ilmiah.
Bila kita melihat ke berbagai rumah sakit modern di Indonesia, justru rata-rata fasilitas utama kesehatan nasional berdiri dengan struktur bangunan 6–8 lantai, di antaranya:
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) — Gedung A & B berlantai 8, menjadi pusat rujukan nasional dengan fungsi pelayanan super-komprehensif.
RSUP Fatmawati Jakarta — Gedung Utama berlantai 8, melayani pasien dari seluruh Indonesia.
RS Persahabatan Jakarta — Gedung Rawat Inap berlantai 7, salah satu pusat unggulan paru nasional.
RSUP Dr. Kariadi Semarang — Gedung Rajawali berlantai 8, pusat layanan trauma dan gawat darurat.
RSUP Sanglah Bali — Gedung Kesehatan Ibu dan Anak berlantai 7, dibangun sesuai standar modern dan aman gempa.
RSUD Dr. Soetomo Surabaya — Beberapa gedung modern berlantai 7–8, menjadi salah satu pusat kesehatan terbesar di Indonesia.
Jika kota-kota besar dapat membangun rumah sakit setinggi itu di wilayah dengan aktivitas seismik lebih tinggi daripada Banggai, maka alasan menolak pembangunan rumah sakit 7 lantai di Banggai jelas sangat tidak masuk akal.
Pembangunan Rumah Sakit 7 lantai di Banggai bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah penanda zaman—titik awal masuknya Banggai ke era modernisasi fasilitas kesehatan. Sebuah deklarasi bahwa masyarakat di daerah ini juga berhak mendapatkan fasilitas setara dengan standar nasional. Bahwa Banggai tidak boleh terus tertinggal hanya karena alasan-alasan yang tidak berdasar.
Banggai saat ini sedang bangkit, sedang membangun dan mengejar peradaban yang lebih maju. Rumah Sakit 7 lantai bukan hanya gedung beton—ia adalah simbol martabat, harapan, dan keberanian untuk bergerak menuju masa depan yang lebih manusiawi dan lebih layak bagi seluruh rakyat Banggai.
Pembangunan Jalan Lumpoknyo – Pasar Tua adalah Mimpi yang Akhirnya Menemukan Jalan Pulang ;
Di Tanah Banggai, ada sebuah mimpi yang telah lama menetap dalam dada masyarakat—mimpi tentang sebuah jalan raya yang dapat membuka sekat-sekat keterbatasan di pesisir. Mimpi tentang jalur yang menghubungkan Desa Lumpoknyo dengan Pasar Tua, mimpi tentang kehidupan yang lebih mudah, lebih cepat, dan lebih layak.
Bertahun-tahun, suara masyarakat selalu sama, keluhan tentang kemacetan yang tak kunjung terselesaikan, keluhan tentang akses yang sempit dan menghambat aktivitas, keluhan tentang tidak adanya perubahan yang benar-benar terasa di daerah. Dan kini, keluh kesah dan harapan itu mulai bersinar nyata.
Pemerintah Kabupaten Banggai bersiap membangun jalan raya baru sepanjang 4 hingga 5 kilometer, membentang indah di pesisir pantai, menghubungkan desa Lumpoknyo dengan kompleks Pasar Tua dan Pelabuhan rakyat. Sebuah langkah besar yang menandai awal dari perubahan yang telah lama ditunggu-tunggu. Pembangunan ini bukan hanya hamparan aspal yang mengkilap di bawah matahari. Ini adalah awal kemajuan peradaban baru di Tanah Banggai. Saat jalan itu terwujud, denyut ekonomi akan mengalir lebih cepat, mobilitas masyarakat menjadi lebih lancar, dan seluruh aktivitas sosial menuju pusat kota akan terasa lebih mudah.
Segala keluhan yang dulu terdengar di warung, di perahu para nelayan, di meja para pedagang, di warkop nya Libero dan Mama Lisa, dijalanan raya—tentang macet, tentang sempitnya akses, tentang daerah yang serasa berjalan di tempat—akan terjawab satu per satu.
Pembangunan Jalan Lumpoknyo – Pasar Tua adalah mimpi setiap orang di Kabupaten Banggai. Mimpi tentang kemajuan, tentang perubahan nyata, dan tentang martabat daerah yang terus tumbuh menyongsong masa depan. Dan kini, mimpi itu bukan lagi sekadar angan yang melayang di antara angin laut, mimpi itu akan terwujud sebentar lagi. Ia datang seperti fajar yang membelah kegelapan, membawa cahaya yang menggetarkan jiwa dan memberi harapan baru bagi seluruh anak negeri Banggai.
Tanah Banggai sedang menulis babak baru dalam sejarahnya. Dan semuanya dimulai dari sebuah jalan, jalan yang lahir dari keluhan yang didengar, doa rakyat yang dipanjatkan, dan cinta yang tak pernah padam dari masyarakat untuk tanah banggai tercinta.
Mimpi Besar Banggai Vs Kritik Kosong ;
Banggai kini berdiri di ambang sebuah babak sejarah. Untuk pertama kalinya, dua proyek megah yang akan mengubah wajah daerah ini dengan cara yang belum pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya. yaitu Rumah Sakit 7 Lantai dan Jalan Raya Lumpoknyo-Pasar Tua.
Benar, dua pembangunan ini akan memangsa ratusan miliar anggaran daerah. akan menuntut banyak tenaga, waktu, pikiran, dan kesabaran. akan membawa dilema ekologis—terumbu karang yang rapuh, ancaman abrasi, perubahan garis pantai yang tak sepenuhnya bisa ditebak. Dan seperti setiap pembangunan besar di dunia, ia membawa potensi risiko yang tidak bisa kita lihat: gempa, badai, amarah alam yang misterinya melampaui kemampuan manusia.
Namun, jika kita membiarkan diri tenggelam dalam ketakutan yang tak berujung, Jika kita hanya duduk memeluk kekhawatiran kosong yang belum tentu terjadi. Lalu kapan Banggai ini akan maju? Kapan kita mulai membangun untuk masa depan anak-anak kita? Kapan kita berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi pembangun peradaban?
Sejarah telah memberi kita jawaban. Jalan Inca di Amerika Selatan pernah ditolak mentah-mentah, dicaci, dikecam, bahkan memakan korban nyawa dan dianggap ancaman ekologis pada masa lampau. tapi hari ini, jalan inca berdiri sebagai situs sejarah dunia. Di Brazil saat rencana pembangunan Jalan Avenida Atlantica di pesisir kota Rio de Janeiro pertama kali diumumkan, gelombang penolakan langsung muncul. Aktivis lingkungan memprotes keras, warga khawatir ekosistem pantai Copacabana akan rusak, dan sebagian tokoh politik kota menilai proyek itu sebagai ambisi yang membahayakan alam. Setiap rapat publik penuh dengan suara keberatan, setiap halaman surat kabar menampilkan argumen ekologis yang menuntut proyek itu harus dibatalkan. Tapi Hari ini sejarah berkata lain, Jalan Avenida Atlantica berdiri sebagai salah satu ikon dunia, Jalan itu menjadi pusat kegiatan ekonomi, wisata, budaya, dan interaksi sosial. setiap hari fenomena sunrise menyinari barisan hotel, kafe, dan ruang publik yang hidup disepanjang jalan Avenida Atlantica itu, ribuan orang berjalan, berlari, berdagang, bekerja, berkumpul menghidupkan sebuah kawasan yang dulu dianggap tidak layak disentuh.
Jalan Avenida Atlantica dan Jalan Inca menjadi bukti sejarah, kadang pembangunan yang ditolak hari ini adalah pondasi kemajuan yang paling dibanggakan esok hari. Menjadi nadi ekonomi, menjadi sumber kebanggaan, dan menjadi bukti bahwa keberanian manusia sering kali membawa hasil yang jauh lebih indah daripada kekhawatiran kosong yang tidak berdasar.
Banyak bangunan megah, jembatan raksasa, saluran air kuno, rumah sakit bertingkat-tingkat, taman kota, hingga pelabuhan internasional di pusat kota, semuanya dulu pernah diprotes dengan alasan bencana dan kerusakan alam. Namun sejarah mencatat sebagian besar kekhawatiran itu tidak pernah terjadi justru kini bangunan-bangunan itu menjadi pilar ekonomi rakyat di seluruh dunia.
Begitu pula di Banggai hari ini. Rumah Sakit berlantai tujuh akan menjadi mercusuar kesehatan di ujung timur sulawesi. Di dalamnya akan lahir generasi baru yang diselamatkan oleh pelayanan yang lebih nyaman dan lengkap. Tenaga perawat, dokter, petugas kebersihan, petugas administrasi—puluhan hingga ratusan ruang pekerjaan baru akan terbuka. Masyarakat tidak hanya mendapat pelayanan kesehatan, tetapi juga kesempatan hidup yang lebih sejahtera.
Jalan baru di pesisir Lumpoknyo–Pasar Tua akan mengalirkan denyut ekonomi yang selama ini tersumbat. akan membuka peluang ekonomi baru, toko-toko baru, warung kuliner pesisir, penginapan, jasa transportasi, usaha perikanan, sektor pariwisata, dan berbagai peluang yang kini hanya menunggu akses untuk mekar.
Ketika roda ekonomi bergerak, ketika jalan terbuka, ketika pelayanan kesehatan tumbuh, maka lapangan pekerjaan lahir dari tanah itu sendiri. Anak-anak muda yang dulu bingung mencari arah, kini melihat peluang nyata di depan mata. Pedagang kecil merasakan jalur baru rezeki. Nelayan mengirim hasil tangkapan lebih cepat ke pasar. Ibu-ibu rumah tangga menemukan usaha baru dari arus manusia yang datang dan pergi.
Itulah wajah baru Tanah Banggai dihari depan. Wajah yang lebih cerah, lebih modern, lebih berani. Wajah yang tidak lagi malu berdiri sejajar dengan daerah lain. Wajah yang dibentuk oleh keberanian mengambil langkah besar—meski penuh risiko, meski penuh tantangan, meski penuh ketidakpastian.
Padola ikan di kampungku bilang bahwa pembangunan besar tidak pernah lahir dari ketakutan. Ia lahir dari harapan, keberanian, dan tekad untuk mengubah takdir.
Dan hari ini, Banggai sedang memilih takdirnya sendiri, menjadi daerah yang maju karena berani melangkah, bukan daerah yang stagnan karena takut mencoba. Mimpi besar sedang dibangun, harapan sedang diwujudkan, Tanah Banggai sedang bangkit dari mimpi panjangnya dan berdiri tegak menyambut masa depan. Jangan di Hambat dengan Kebodohan dan sakit hati karena kalah Pilkada.
Jangan hanya karena kalah di Pilkada, lalu masa depan seluruh masyarakat ikut disandera. Jangan hanya karena tidak mendapatkan posisi, tidak memperoleh porsi anggaran, lalu pembangunan yang seharusnya menjadi hak rakyat berubah menjadi alat balas dendam. Jangan menjadikan alam sebagai tameng, seolah-olah kita ini adalah penjaga terakhir bumi, jangan jadikan ekologis sebagai kedok kosong untuk menghalangi pembangunan yang sudah lama dinantikan masyarakat.
Jangan menjadikan kebijakan pemotongan anggaran dari pemerintah pusat sebagai dalih sok-sokan hemat, padahal yang dihemat bukan anggaran—melainkan kesempatan daerah untuk maju.
berhenti mengatasnamakan rakyat, berteriak lantang seolah-olah membela kepentingan umum, padahal di balik teriakan itu hanya ada satu luka: luka karena kalah Pilkada dan tidak mendapat jatah anggaran di APBD.
Kesimpulan ;
Banggai terlalu besar untuk disandera oleh dendam pribadi. Tanah ini terlalu berharga untuk dibiarkan terjebak dalam permainan kecil orang-orang yang ingin melihat pembangunan berhenti hanya karena kepentingannya tak terpenuhi. Pembangunan Rumah Sakit tujuh lantai dan jalan raya pesisir Lumpoknyo–Pasar Tua bukan proyek balas budi, bukan proyek politik. Itu adalah proyek peradaban. Proyek untuk menyelamatkan nyawa, membuka akses, membuka lapangan kerja, mengalirkan ekonomi, dan menciptakan wajah baru Tanah Banggai.
Banggai tidak boleh berhenti bangkit hanya karena hati segelintir orang belum sembuh. Tanah Banggai ini punya jutaan mimpi, ribuan harapan, dan masa depan yang terlalu penting untuk dikorbankan demi ego sesaat.
Jika setiap pembangunan harus tunduk pada dendam, jika setiap langkah maju harus menunggu semua hati puas, maka Banggai tidak akan pernah bergerak setapak pun ke depan. Banggai harus berani berdiri setara dengan kota kota besar lainnya, Karena sejarah selalu memihak pada mereka yang berani membangun, bukan pada mereka yang menghalangi.
Hari ini, Banggai sedang bangkit.
Dan tidak ada sakit hati, tidak ada dendam, tidak ada kepentingan pribadi yang boleh menghalangi laju kebangkitan itu. Rumah Sakit 7 Lantai dan Ruas Jalan Lumpoknyo-Pasar Tua Harga Mati Harus di Bangun.
Wasalam.
Anchu ; Penulis bukan siapa siapa.