Di BALIK DENTING DOMINO : SILATURAHMI OM HEPY & OM BALI MANG MENGHIDUPKAN KEMBALI RINDU PERSAUDARAAN DI LUWUK

by : @Aksara-Nusantara

Di tengah riuh sederhana sebuah warkop di Kilometer 5 Luwuk, Selasa malam 21 April 2026, suasana tak sekadar hangat oleh kopi yang mengepul, tetapi juga oleh rindu, kenangan, dan ikatan persaudaraan yang kembali dirajut.

Hepy Yeremia Manopo, yang akrab disapa Om Hepy, hadir bersama Syamsul Bahri Mang atau yang dikenal Om Bali Mang, menjalin silaturahmi dengan ratusan pegiat olahraga gaple/domino. Bukan pertemuan biasa, malam itu menjadi saksi bagaimana dua tokoh politik Banggai menyatu dalam denyut kehidupan rakyat—tanpa sekat, tanpa jarak.

Di antara denting kartu yang saling beradu, terselip cerita-cerita lama yang seolah hidup kembali. Bagi Om Hepy, permainan domino bukan sekadar hiburan. Ia adalah jembatan kenangan—membawa pulang ingatan pada masa-masa sederhana di Kota Luwuk, ketika tawa bersama sanak saudara dan sahabat menjadi kekayaan yang tak ternilai.

“Permainan ini membangkitkan kerinduan pada keluarga, pada teman-teman, pada kehidupan yang pernah saya jalani dulu,” ungkap Om Hepy dengan nada yang sarat makna,

Seolah setiap kartu yang dibuka menyimpan serpihan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Silaturahmi ini bukan hanya tentang permainan, melainkan tentang memahami denyut tradisi yang hidup dari generasi ke generasi—di desa, di kota, di sudut-sudut kehidupan masyarakat Kabupaten Banggai. Domino bagi mereka, adalah bahasa kebersamaan yang tak lekang oleh waktu.

Om Bali Mang pun terlihat larut dalam suasana, menyapa satu per satu peserta dengan kehangatan yang tulus. Malam itu, tak ada hirarki, tak ada sekat jabatan—yang ada hanyalah kebersamaan yang mengalir apa adanya.

Acara semakin bermakna ketika Om Hepy secara resmi membuka lomba/putaran permainan domino. Dalam pesannya, ia tak hanya mengajak untuk bermain, tetapi juga mengingatkan akan nilai yang lebih dalam.

“Jaga ikatan persaudaraan kita semua sebagai sesama pecinta permainan kartu domino ini, dan tetap junjung tinggi sportivitas,” pesannya, tegas namun penuh kehangatan.

Di bawah cahaya lampu warkop yang sederhana, ratusan pasang mata menyala dengan semangat yang sama—semangat kebersamaan. Malam itu, domino bukan lagi sekadar permainan. Ia menjelma menjadi simbol ; bahwa di tengah kesibukan, perbedaan, dan perjalanan hidup yang jauh, selalu ada ruang untuk kembali kepada akar, kepada kenangan, kepada sesama.

Kabar Terkait